Hit Enter to search or Esc key to close
Yadnya Kasada Eksotika Bromo Ritual Pemujaan Luhur

Yadnya Kasada & Eksotika Bromo Ritual Pemujaan Leluhur

Yadnya Kasada & Eksotika Bromo Ritual Pemujaan Leluhur

Yadnya Kasada Eksotika Bromo Ritual Pemujaan Luhur

Yadnya Kasada dan Bromo Eksotika adalah serangkaian pertunjukan seni yang diadakan untuk menyambut upacara Yadnya Kasada untuk suku Tengger. Pertunjukan yang memiliki konsep menyatukan seni, budaya dan daya tarik wisata alam mengambil lokasi di daerah pasir laut Gunung Bromo. Sementara upacara Yadnya Kasada sendiri diadakan di Pura Luhur Poten diikuti dengan mengirimkan sesaji dan sesaji yang disiapkan ke puncak kawah gunung untuk dibuang ke kawah sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh leluhur mereka. Untuk suku Tengger, persembahan dilemparkan ke kawah Bromo sebagai bentuk rasa terima kasih atas hadiah para dewa untuk kesejahteraan yang berlimpah, panen, ternak dan pertanian.
Waktu festival untuk Upacara Yadnya Kasada di Bromo selalu dirayakan setiap tahun tepat pada bulan ke 14 bulan purnama Kasada atau bulan kesepuluh dalam kalender Jawa.
Ritual ini wajib dilakukan tanpa ada kompromi. Jika Gunung Bromo sedang erupsi, turun hujan deras, atau angin kencang sekalipun, Yadnya Kasada tetap harus dilakukan.

Prosesi Upacara Yadya Kasada

Selain melarung persembahan ke kawah gunung, Yadnya Kasada juga dibuat untuk memilih dukun baru untuk setiap desa di wilayah Tengger. Pemilihan dukun harus melakukan serangkaian tes, seperti menghafal mangga, pembukaan upacara Yadnya Kasada yang dimulai di Pura Luhur Poten, yang terletak di area pasir laut, tepat di bawah Gunung Bromo . Dukun memiliki peran penting bagi suku Tengger. Karena, nantinya, mereka akan memimpin semua prosesi keagamaan, ritual tradisional, pernikahan, dll.
Ritual telah dilakukan selama berabad-abad, ketika manusia pertama kali menghuni daerah Gunung Bromo. Karena kekacauan dan kerusuhan di pusat pemerintahan Majapahit di Trowulan, terjadi eksodus besar-besaran orang pada waktu itu. Sebagian besar dari mereka menyeberang ke timur, seperti Kadipaten Blambangan atau sekarang dikenal sebagai Kabupaten Banyuwangi, Pulau Bali dan Pulau Lombok.
Sebelum runtuhnya Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Prabu Brawijaya V pada abad ke-14, ada seorang putri Prabu Brawijaya V dan salah satu selirnya, bernama Dewi Rara Anteng, yang melarikan diri bersama suaminya, Raden Jaka Seger, di kaki gunung Gunung Bromo, tidak jauh dari pusat. Pemerintah Majapahit. Bersama dengan rombongannya, mereka membuat pemukiman di kaki gunung. Dia kemudian memerintah di wilayah Tengger dengan judul ‘Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger’, yang berarti penguasa Tengger tercinta.

Asal Usul Nama Tengger

Nama Tengger diambil dari nama keluarga penguasa, yaitu Dewi Rara Anteng (Teng) dan Raden Jaka Seger (Ger). Seiring waktu, Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger dan rakyatnya hidup dengan damai, damai, dan sejahtera. Tanah subur di kaki gunung-gunung menghasilkan hasil berlimpah, tetapi setelah bertahun-tahun menikah mereka tidak pernah diberkati dengan keturunan juga. Raden Jaka Seger dan Dewi Rara Anteng juga melakukan meditasi atau meditasi di puncak Gunung Bromo (Brahma) tepat di tepi kawah.

Berawal dari janji yang tidak di tepati

Yadnya Kasada Eksotika Bromo 700x400 - Yadnya Kasada & Eksotika Bromo Ritual Pemujaan Leluhur

Di tengah malam di pertapaan mereka, mereka menerima bisikan ajaib bahwa keinginan mereka untuk memiliki keturunan akan terkabul dengan satu syarat, yaitu, bahwa putra bungsu mereka harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Suami dan istri dari keturunan Majapahit setuju. Kemudian, meringkas kisah itu, pasangan itu akhirnya diberkati dengan 25 anak, dan anak bungsu yang berkurban adalah Raden Hadi Kusuma, yang tumbuh menjadi pria yang kuat.
Sebagai orang tua, naluri Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger tentu tidak mau jika anak mereka sendiri dibantai dengan cara dibubarkan di kawah Gunung Bromo. Karena mereka melanggar janji mereka, Dewa marah. Langit di daerah Tengger segera berubah hitam dan Gunung Bromo meletus dan menyalakan api. Raden Hadi Kusuma langsung menghilang oleh api dan memasuki kawah Gunung Bromo.

Makna Upacara Yadnya Kasada

Eksotika Bromo Yadnya Kasada Ritual Pemujaan Leluhur 690x400 - Yadnya Kasada & Eksotika Bromo Ritual Pemujaan Leluhur

Bersamaan dengan kejadian itu, ada suara ajaib dari Raden Kusuma yang mengatakan dia telah dikorbankan untuk keselamatan Tengger dan mengingatkan mereka bahwa mereka harus selalu menyembah Sang Hyang Widhi dan memberikan persembahan setiap 14 hari di Kasada. Sejak itu, ritual Yadnya Kasada ini dilakukan untuk pertama kalinya oleh anggota suku Tengger di Gunung Bromo.
Penduduk Tengger percaya bahwa jika mereka merayakan ritual Yadnya Kasada, mereka akan di jauhkan dari bencana dan ternak juga akan berlimpah. Selain menjadi simbol penolakan bencana dan manifestasi rasa terima kasih bagi warga Tengger kepada Sang Hyang Widhi, ritual ini juga merupakan perwujudan janji mereka kepada Raden Hadi Kusuma dan 24 putra Dewi Rara Anteng dan Raden Jaka Seger yang menjadi pelopor kelahiran leluhur mereka.

Yuk, berwisata di Malang Bromo Kawah Ijen. Percayakan liburanmu selama di Bromo Malang pada Bromokita Tour Travel. Kami akan membuat Kamu merasakan sensasi berpetualang di Malang Bromo Kawah Ijen selama beberapa hari dengan mengunjungi tempat seru dan indah.

Nah, tunggu apa lagi, Kami akan sangat senang menunggu telepon darimu untuk segera bergabung. Jangan tanggung-tanggung, ajak teman-teman, keluarga, dan pacarmu untuk ke Malang bersama Bromokita Tour Travel.